3.9.06

operandus perpisahan tahap pertama gelombang ke dua tahun dua ribu enam dimulai sama sosok Vemil.

Siapa Vemil? ya siapa ya? sosok layak di nobatkan jadi cokiber madam2 london yang tidak sempat dilantik secara waktu terlalu sempit untuk mengenal dan mengeksplotasi keberadaannya dia. AH! sebel. begitu melulu. dalam sebulan ini, gue cukup mengenal seorang Vemil sebagai sosok cukup bertanggung jawab/yang memberi rasa aman, dan nyaman -sebatas tidak perlu adanya keterikatan emosional. yang kalo di kaji lagi, sebenernya ini berarti sangat kurang nyaman dan tidak berarti aman juga sih.. karena pada intinya setiap manusia pada egonya selalu ada titik fulnerabilitas. apa ngaruhnya buat gue? ah, entahlah.

kalo semua lancar, gue bakalan berangkat secepatnya nyusul keluarga gue. iya, gue mau pulang. dimanapun itu letaknya secara geografis; gue rindu sekali celotehan kebersamaan keluarga. lalu,
lalu untuk pulang ke london, nemuin tulang punggung sub-keluarga gue disini sudah pulang untuk, selamanya. sendiri lagi. walaupun, kekeluargaan berikutnya pun sudah dipupuk dari kemarin dan, kemarinnya lagi. perubahan, tak terelakkan.

gue sering berfikir akhir2 ini, sekiranya ada dampak samping -alias trauma, terselubung dengan pola hidup gue yang penuh dengan perubahaan begini. gue aja, nggak pernah tau dimana letak geografis 'rumah' gue. dinamikanya begitu, err, semarak. apalagi yang konstan?

cinta.

cinta keluarga gue, pastinya. cinta yang ngedatengin rasa aman dan nyaman. yang pastinya jadi suatu norma yang sakral, diselubuk ego gue yang paling dalam. titik lemah? bisa jadi.. tapi jangan menutup sebelah mata juga, kalo itu jadi titik kuat gue dalam menyikapi segala tetek bengek perubahan-perubahan dalam hidup. sudah alamnya saja, begitu adanya. apakah itu menjadikan gue naif? idealis? ambisius? posesif? kalkulasikan saja sendiri. tapi jangan terlalu berhitung juga. picik pada norma humanitarian itu ibaratnya pamali! gue paham betul, kalo cinta tidak selamanya adil. gue belajar bahwa kebutuhan gue untuk memberi rasa aman/nyaman dan kebahagian gue untuk menerima rasa itu kembali, juga nggak selalu datang seimbang pada proporsinya. gue toh, cuman memberi apa yang gue bisa kasih. itu aja sudah perlu diperingatin sama Bapak, kalau batas toleransi gue terlalu luas. HAH! toleransi.

anggap saja, kompensasinya gue terhadap tabiat dasarnya cancer yang (kata astrologist) 'bukan pemaaf'.

beri gue pengertian, neraca nalar dalam memahami pelik lika-likunya apalah itu; dan pemahaman gue atas seseorang bisa terealisasi dalam penerimaan yang bisa lebih tenang dibanding letup2an prosesi sebuah 'maaf'. kecuali, belum juga ada pengertian bahwa titik lemah dan kuatnya sebuah jiwa itu bobotnya kurang lebih sama? sama-sama membentuk kepribadian seseorang, seutuhnya. kalau belum, berarti kamu belum bisa menerima potensial sebuah kehidupan, maaf, diri kamu sendiri. sampai disini pun, gue masih mencoba menerima.. keberadaan seseorang pada fase yang tidak terlalu nyaman dan aman untuk gue membangun relasi pada platform yang mutual, murni.

meski, ada satu yang susah untuk gue terima, pahami ah -apalagi untuk menerima? mungkin prosesi 'maaf' disini perlu.
disaat seseorang menerima dan menerima tanpa memberi. ambillah fakta bahwa pergantian tangan terjadi, hanya kursnya berbeda. seperti gue bilang, pamali untuk berkalkulatif pada norma humanitarian: berapa mata uang yang bisa melabel harga nyaman dan aman? masukkan saja variabel IF bahwa seseorang ini sedang pada fase tuna-emosi.. THEN, apakah mata hatinya hilang atau sekedar perlu ditimang dan diingatkan keberadaannya? karena pun, disaat dimana mata hatinya telah hangus, tolong konduk norma dasar ditegakkan. seapes-apesnya yah, kamu paling tidak bisa cukup membohongi diri kamu sendiri untuk membohongi gue.

egois!

oktober nanti sekolah mulai, gue bakalan sibuk lagi di rutinitas yang sudah mulai membosankan tapi sayangnya gue cintai. gue, kembali ke dunia gue gue dan gue. sementara tolak punggung dan ukur batasan aman dan nyaman gue disini kelak bakalan sedikit banyak 'hampa'. kemarin Vemil, lalu Deni dan Dini, Doni sudah realokasi dengan pekerjaan barunya, kemudian Vina. heumn. dinamika pertanggung jawaban aman dan nyaman sosial gue dikota ini, ibaratnya pupus. sendiri lagi, pada ego'nya masing-masing.

selamat tinggal, sahabat.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home