20.9.06

ramalan/lamaran brengsek!

kemarin saya di ramal orang. si mbah, rada nyentrik karena masih hidup di penanggalan windu, komunikasi bahasa kromo inggil, komat kamit surat2 Qur'an sambi nebar kartu penuh simbol dengan bakar2an hio mencuat dari tempat sembahyangan di balik punggungnya. komplit.

niatnya baik, ingin dekat sama saya. begitu ketemu saya di ajak makan. delapan lauk disiapkan sama si mbah di meja, pake plus plus. ah! tapi sungguh saya kenyang.. kenyang plus plus. maaf, tapi ga bisa untuk ga curiga juga kalo nasinya sudah di sembur duluan sebelum saya datang. atau dia sekedar mau mengaplikasikan tehnik hipnotis ringan disaat perut kenyang, biar ngobrolnya plong. aih matay! sehabis susah-susah gampang kemudian menelan, maka dibukalah kartu-kartu saya.

ada siapa, lelaki, dalam hidup mu?

mana saya tahu yang mbah maksud?

dekat..

(he?)

banyak yang senang jadi teman kamu ya..

syukuralhamdullilah kalau begitu

oh, yang tadi hanya untuk curhat2 saja

(baguslah)

ada lelaki lain, orang asing. bisa bule bisa orang afrika. dosen kamu?

ada, dosen laki-laki saya (tapi dia homo) atau kenalan saya

dia dekat sekali sama kamu. tapi saya sarankan jangan.

oh iya (saya pun, tidak tertarik sama pria homoseksual)

nanti ibu akan menentang keras

...sepertinya

nanti kamu sama sama orang solo

(HAH?!) oh ya?

LOH! iya toh. bapak ibu mu kan dari solo

itu setengah betul..

begitu?

bagaimana kalau bukan jawa? sunda mungkin?

wah! (wajah takjub) nanti saya cari tau. tapi kamu tau, ibu hanya mau yang terbaik untuk kamu bukan?

oh, iya.. pastinya.

hemn. ada. disini ada. pacar! tapi sepertinya kamu yang belum yakin

masa?

iya. padahal dia sudah mau.

tunggu dulu! pacar pun saya ndak punya.

ah ya apalah itu! 'penjajakan'? hehe

..err, h..e..h..e..?

masih lirak lirik saja ya?

ooohh, kalo lirak lirik sih iya!

iya, tapi sepertinya kamu yang masih cari-cari.

duh! kebalik kali mbah. orang dia yang masih lirak lirik yg lain (juga) kok!

NDAK. ndak tuh. kamu jangan nikah terlalu nanti. baiknya dua tahun lagi. bisa?

......(?w?t?f?) InsyaAllah kalo kepareng.

Nanti kalo kamu keburu buka usaha, kamu bakalan wegah menikah.

.. yah, itu sih sangat mungkin!

jadi tahun berapa itu ya? 2008.

inggih

2008 february..

(gasp)

atau bulan sebelas tahun 2008. tanggal lima atau sembilan..

(WOW! 9-11 dunks!) bagaimana kalau january 2009?

Oh ya, begitu?

(yah kan, saya cuman nawar doang ini Mbah..)

kamu dapet dari mana itu?

Entah Mbah. Sekelibat aja lewat pikiran. (asal)

Baiknya kamu latih kembali bakat kamu tadi. Ya sudah, pokoknya dua tahun lagi! Ini orangnya baik, ga macem2, taat beragama, suci lah! Kamu pintar juga memilih orang. Jangan sampai lepas!

(yang mana?! bagaimana bisa lepas, dapat pun belum!!).. inggih Mbah.

Nanti Bapak tidak akan terlalu banyak bicara. Tapi Ibu mu akan.

Oh, iya. (pastinya)

Sudahlah Non, jangan ragu lagi. Ini orang sangat baik.

Inggih Mbah.

keluar dari ruangan sakral, saya bergembira hati. kegembiraan semu. karena saya tahu, saya percaya enggak lucu2an dengan apa saja yang terjadi. Tapi saya jadi rindu. rindu sekali. andai saya bisa tahu saya rindu sama siapa. adrenalin boost yang nyata dan tidak nyata ini melelahkan. Saya jatuh tertidur di sofa ruang tamu.

Terhentak dari tidur siang, saya dikenalkan sama orang lain lagi yg kebetulan sedang duduk2 asyik merokok di ruang makan. Perempuan berambut seperti punk rocker 80'an, manis dan awet muda. Tapi semua itu tidak sekentara bola matanya yang coklat berembun seperti bola kelereng. Saya lihat embun pada matanya bergejolak menari nari, seperti lantun bicaranya yang terdengar dari bibinya yang tersenyum simpul,
"kamu mau nikah ya? setahun lagi? pacar kamu sudah menunggu. iya kan?"
'maaf tante?'
"iya, pacar sudah ngajak nikah ya? seneng dong'
'heumn, mungkin tante salah. saya nggak punya pacar'
'ah kamu. jangan bohong. ada kok'
padahal yang ada, saya masih dan sedang mencintai lelaki yang tidak cinta sama saya. paling tidak, itu yang saya yakini dua hari yang lalu. bahwa cinta saya, nyata. tanpa saya ingin terlalu menutup diri, kemungkinan adanya anugerah Allah yang lebih pantas untuk saya.
'ada ya tante? oh ya, syukurlah' mungkin si Tante bisa melihat cinta atau kehadiran sesuatu lebih nyata sebagai suatu wujud. jadi, bisa saja untuk dia lebih riil dari pada saya, si pelakon sandiwara cinta ini. mungkin juga yang dia lihat adalah bathin saya yang selalu ingin melewati limitasi jarak dan waktu untuk bersamanya. atau, mungkin saja dia bisa melihat bayangan yang menghantui saya di awal2 saya mendalami dia? terlalu banyak kemungkinan2 tak berarti. karena yang berarti bagi saya sekarang adalah yang nyata. dan pada kenyataan si Tante mencoba membaca saya tanpa kesadaran dan keinginan saya untuk di baca. dalam sekejap saya bangkit dari posisi duduk untuk bermain bersama Pram. 'sadari posisi mu, wanita!'

post di ramal?
well, erm... seharian itu jadi rindu sekali sama yang saya ingin/kira orang yg mereka sebut. lucu juga, esok harinya saya memilih untuk membelokkan rasa.

i am afraid to fall

to free fall

for i knew i already am in love

yet i myself still is very afraid.

im longing for a guiding hand,

something more tangible.

quando quando quando!

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home