14.2.06

lapan jam tidur kemudian.. nyoba ngira2 ada kejadian apa semalem. ibu telpon lepas midnight. dan setelah 50 jam tanpa istirahat, semua pun tumpah. ga ada dinding pengaman. uneg2 dan kesal; essensi ujian.. yg berarti juga refleksi satu semester penuh.

kemarin lagi2 anggit di permalukan di depan penguji. masalah simple, grafis. semuanya raib di translasi, wong yg menguji bukan si guru pembimbing. sayangnya yg dia bilang itu bener. dikembalikan pada persepsi awal, yang baik. jadi ga banyak ruang juga untuk bela diri, tapi hanya hanyut sama rindu di titik biru retina matanya sang guru.

di bincang2 konsultasi untuk subject lain pun, di buat seolah2 keputusan untuk membuat karya yg dibuat itu, suatu kebodohan. lucu, kaya ada trend baru di semester ini: dosen2nya ga ngomong apa2 selama proses. di titik akhir mereka baru coba ambil kendali, memuntir2 sisa benang ngejuntai -hasil perahan waktu, energi dan otak- untuk lalu dituding2kan kembali ke saya. manusiawi kalo saya geram. sudah, sudah muak. yang sisa tinggal dua kemungkinan ektrim: murka atau masa bodoh.

tapi ah, saya sudah kok, satu semester ngambek dalam murka. gak banyak hasilnya juga. saya sekarang perlu venting. jadi lah ibu korban afeksi saya semalam. ga ada ruang sisa lagi untuk rasio. semua saya paparkan. bukan cuman dari sisi kreatifitas yang di picu, mentalitas di gojlok, badan sudah (dan terus) dibakar. seperti perjalanan tanpa akhir. nilai sudah termanipulasi, kejujuran diri sudah terkorupsi dan saya yang muak. muak sama dosen, kultur dan murid. saya buka peta butanya jadi mahasiswa jujur, yg ga keberatan nyebrang bolak balik batas gerbang nyaman. saya sudah jadi satu murid yang tidak akan pernah dapat pengakuan penuh dari dosen atas jerih payah saya. kalo alesannya untuk motivasi, saya perlu menjerit, "reverse psychology taik kucing!" apa kabar, tangan yang terbuka lebar dan senyum tulus?

lalu pikiran saya jadi melang-lang: pantas saya begini. pantas mereka begitu. saya perlu refleksi diri lagi, kembalikan semua pada persepsi yang baiknya. semoga, lebih baik. siapkan batin untuk bounce back, berawal dari platform baru untuk semester depan. tragis, tapi untuk saya masih punya cukup uang. yang bisa membelikan saya kebahagian maya, sedikit merasakan jadi bagian dari masyarakat: fashion victim yg didorong oleh fulnerabilitas vanity, menjamu makan, mengikat tali pertemanan, lalu saya perlu menyewa mobil: mengandaikan saya kembali memegang kendali (atas apa aja yang masih sisa), dengan tujuan tanpa perlu tahu kemana. saya punya hanya satu weekend untuk itu. plus kerja volunteer di LFW. badan semakin membara, tapi saya perlu. semester depan, bakalan dimulai dengan lamban. tapi semoga lebih baik.

sekarang, saya perlu memfokuskan diri dalam lampiasan emosi saya di 2 projects akhir untuk kamis. bukan, bukan ujian. ujian saya di bidang fashion berlangsung tanpa henti.


frequent flyer saya memberi lebih banyak
rekognisi dari pada bidang saya.

bu, tapi nyatanya saya masih disini. ini hidup saya sekarang, normalitasnya memang sudah bergeser. saya hanya akan menjalani sampai titik akhir, semoga dengan perjuangan yang sepadan. semua ini akan ada baiknya meski rasanya banyak buruknya. disinilah titik pergeseran itu. andaikan bisa kita artikan bersama, saya bisa tidur dengan nyenyak diakhir hari.. bahwa ada orang lain diluar sana yang bisa mengerti.. saya bisa mengenyahkan sejenak keinginan untuk punya pacar. semua orang punya bebannya masing2.. tapi saya butuh waktu untuk mengartikan beban saya, sebelum bisa minta dimengerti dan membantu mengerti beban orang lain.


ya nasib
. . .
Image hosting by Photobucket
selamat lagi, untuk sahabat sejati:
alfiza abdul rahman & moh. nizam zabdi
found better picture of them
Image hosting by Photobucket
and this come with.
Image hosting by Photobucket
(damn he looks good)
..

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home