3.4.06

ingin bisa lepaskan kamu, bebas lepas. jauh dari cengkeraman kasih atau peduli atau apalah yang masih sisa ada di dalam rongga dada ini, yang untuk menarik nafas pun sering lupa. maaf, tapi dada saya memang lapang. bisa jadi terlalu lapang, membuka banyak permukaan untuk segala macam rasa pada mereka yang sempat sudi mampir didalamnya. naas aja, kalau kali ini giliran kamu.

sungguh saya ingin bisa binasakan kamu dari segala macam bentuk; alam fikir, alam rasa, alam fisik maupun alam bathin. betapa mudahnya untuk di sikapi bila saya tau kata benci. sayangnya untuk marah pun hati saya tidak mampu menyimpan terlalu lama. bagaimana saya musti marah, kalau kesalahan ada pada saya. saya yang telah menaruh kamu begitu indah dan rapihnya diatas panggung di alun-alun tengah kota untuk berlakon pekewoh, sungkan, malu2. semua begitu adanya (hanya) karena rasa sepihak, milik saya.

yg ada sekarang yang sisa hanya dua rasa, masing2 dengan gravitasinya sendiri. yang pertama pastinya sedih. sedih yang paling nyata, ada karena ternyata kamu selama ini tinggal diam tanpa gini-gono sedikit pun saat panggung itu saya bangun dengan palu dari tangan sendiri. ah! kamu memang manusia baik, sangat baik nyaris bodoh. iya, bodoh karena kamu sudah biarkan baik mu mencekat kerongkongan mu sendiri untuk bersuara, berpendapat apalagi untuk di dengar. padahal untuk kesekian kalinya saya selalu bilang, jangan mengasihani saya. jujur hanyalah jujur, apapun konsekuensi dari suatu kejujuran.. itu hanya bisa disikapi saja. tetapi kamu memilih hening dengan fikir mu sendiri -yang apa pun alasannya, tetap tidak akan menelurkan jawaban. atau sekiranya paragraph ini pun adanya hanya di dalam fikir saya sendiri, sementara hati mu ternyata selama ini tidak terusik sedikit pun dengan saya yang sibuk bermain palu dan sekonyong-konyong menari perut merecoki kamu?

pastinya disini pun ada malu. malu pada diri sendiri, bahwa saya khilaf telah memaksakan kehendak saya terhadap kamu. ya, dari segala sisi: dari rasa yang di dasari asa, dari nalar yang ingin mengenal kamu -seutuhnya, dari manja yang ingin di ayomi, dari bathin yang tidak ingin sendiri, dari idealisme atas masa depan yang ingin dijalani bareng sama kamu, dari sisi kewanitaan saya yang ingin (belajar) menyayangi dan menjaga kamu. dari secuil premonisi yang ingin saya buktikan atas kamu. ah! aneka ria jenaka lah lagaknya, padahal cinta pun tidak -sayang pun mungkin belum. semua hanya karena saya peduli, bisa jadi penasaran. dan semua itu saya harus paksakan atas kamu. naasnya nasib mu. ah, dosa apa kamu hingga harus begini situasinya ketemu saya?

jadi ya, mau tidak mau saya kasihan sama kamu. meski sungguh, saya malas betul untuk mengasihani orang lain, apalagi teman sendiri. dimana kata dasarnya 'kasih', tetapi di beri imbuhan 'an' sifatnya berbalik mencerminkan ketimpangan. siapa nyana kamu bisa tinggal diam tak bergeming di hipnotika modal tarian perut urakan ala jawa, yang nafas pun sering kali pantas di sokong tabung O2? dada saya mungkin lapang tapi maaf, saya tetap manusia berkeinginan yang sadar tidak sadar saya ternyata tukang palu kelas cere coba bangun panggung terbaik di tengah kota diatas-namakan nama mu.

teman bijak pernah mengingatkan, ada dua sisi di tiap koin. bisa jadi apa-apa yang saya tulis diatas hanya di batasan awang-awang lingkup fikir saya seorang. coba-coba cari nalar, artikan rasa. coba temukan ideal, untuk tentukan sikap. coba dan coba, manusia hanya bisa berusaha bukan? bisa jadi saya sesungguhnya tidak kasihan sama kamu. karena berarti saya coba memposisikan diri sendiri lebih dari kamu -apapun tarafnya itu. dan sungguh Gusti, saya tidak pernah ingin bermaksud begitu angkuh. bisa jadi saya hanya begitu karena sesungguhnya sebagian dari saya-lah yang hancur lebur menuju titik binasa. pastinya ada, disisi pecahnya sebuah gelas khayal untuk bisa mendampingi dan didampingi kamu. bisa jadi juga saya yang perlu lepas bebas. lepas jadi segala ambigu ini yang semakin lama tergeser di urutan prioritas saya sekarang untuk mengatur nafas. apapun itu alasannya, malam ini saya tidak akan mampu menjawabnya dengan keyakinan pada diri saya sendiri. malam ini nyatanya burung kecil tetap menyanyikan kabar kamu. salahkah bisa saya kembali rentangkan lengan untuk kamu? kamu terlalu murni baik condong naif, untuk dibinasakan. saya bisa hidup dengan binasanya suatu kehendak diri saya sendiri atas kamu.. tapi entah apakah saya bisa hidup dibayangi malu dengan kebinasaan totalitasnya sosok seindah kamu hanya karena kehendak ego semata.

lucu, cinta pun bukan.
sayang juga belum.
sekedar peduli,
sama kamu
-yg sudah dan pernah menyusup di rongga nafas saya.
saya hanturkan pamit,
janji
saya usahakan.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home