1.4.06

"mestinya tidak satu.
bagaimana mungkin bisa satu. saya bisa mengerti satu koma satu, satu koma dua. sebenarnya, denominator satu pun semestinya tidak.."

gitu kira2 kata mas ganteng penuh empati. ganteng karena simpatis. belum nyata bisa dibilang karismatis -dia terlalu belia dan ringkih, terlihat di garis tangannya yang begitu feminin nyaris rapuh. tangan yang sama menyentuh buah dada kiri saya kemarin waktu, dengan begitu lembut dan atentif. bisa jadi saya sekedar rindu disentuh, dibelai.. seperti bocah hilang akal, saya jadi manja. manja sama dia, dokter muda. habis kamu ganteng sih.

entah kapan terakhir kali saya jatuh hati sama laki-laki bersosok feminin. sungguh, segan untuk mengingat-ingat. malu rasanya mengulik-ngulik memori yang banyakan dibayangi sama perselisihan dan kecewa. debu serpihan sisa kecewa yang terakhir pun masih bersisakan pahit di lidah, "kenapa musti kamu yang memakai celana diantara kita berdua?". ya kenapa? saya masih tetap seorang perempuan. saya masih mencari kubah pernaungan dimana saya kelak bisa menjadi seorang wanita seutuhnya. sejalan dengan kodrat, kata ajaran kuno. ah, nyatanya tidak. sebaliknya, dia malah mempertanyakan sebuah pertanyaan yang semestinya dia nikmati sendiri, "kenapa saya tidak bisa menjadi Sang Pria dalam hubungan saya dengan seorang perempuan?". apa sulit dipahami, bagaimana laki-laki hanya gender yang lahir dalam pembentukan susunan hormon dalam rahim -sementara untuk tetap menjadi seorang Putera atau menjadi seorang Pria, itu jelmaan sikap hidup? janganlah jadi mahluk yang membodoh-bodohi diri sendiri terlalu lama. sesungguhnya saya hanya bocah manja yang berakal wanita. yang pun bisa merasa. rasa amarahnya sendiri.

marah karena tidak mengerti. marah karena disekian banyak pertanyaan/pernyataan ambigu, alam fikir pun sudah letih melucuti peluh sendiri untuk berkeinginan mengerti. marah karena kembali berdenominasi satu, tidak lagi dua, tidak bahkan satu koma -tetapi satu. marah karena sekarang, tidak dahulu lampau ataupun esok entah kapan. marah karena kamu, yang masih saja bodoh tidak mau ada untuk saya. marah karena saya, lagi-lagi mencari delikasi atas sebuah pengertian ada pada laki-laki bersosok feminin dan bukannya pada seorang Pria. paling tidak kali ini saya mulai dari perkiraan bahwa kamu sudah menjelma menjadi seorang Pria, dewasa, seutuhnya.

jadi saya biarkan saja sisi bocah saya mengais-ngais manja, dari mas ganteng penuh simpatik. karena dia ada sementara kamu tidak. kamu tidak ada untuk saya. kamu tidak datang untuk saya. mungkin kamu fikir, kamu datang untuk saya.. sesedikit apalah rasionya. tapi nyatanya sedikit pun tidak. kamu tidak lagi membayang. malam ini, kamu binasa. bayangmu yang lalu, kini pecah rata membutir halus habis menyatu pada neuron matrix. raib. tanpa sisa. bersih.

bersih.. sudah lama tidak bersih-bersih. cukup lah gejolak kejadian dan pelajaran baru akhir-akhir ini. studio kerja kembali lebam berantakan. waktunya beberes. apa itu, disiplin ajaran kuno: perempuan pada kodratnya (musti) pandai bersih-bersih, pandai memasak, pandai merawat, pandai menjahit.. merangkai bunga juga barangkali? mari, sekarang saya bersihkan. rapihkan amarah; sapu malu. saya mau masak jamu, jamu kuat untuk sikapi platform baru saya berikutnya. sambung pengertian baru, coba terima prosesinya. toh saya hanya perlu merawat untuk satu sekarang. saya mau nikmati saja, sambi menjahit. mungkin saya rangkai satu dua buah karya bunga untuk saya. kalau cuaca hati baik, siapa tahu nanti saya sekatkan satu bunga di belakang telinga kamu kelak.

..
"kenapa satu? karena saya spesial dok.. :))"

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home