gimana ya, untuk bilang sama para sahabat, sanak saudara, teman, kecengan -yang kemarin maupun yang esok.. bahwa erm.. bahwa yang saya cari dari seorang pendamping adalah sosok brahmana. ah! jadi malu sendiri. bagaimana mungkin ada, hari gini? yang manusia begitu terlena pada ketergantungannya atas teknologi dan informasi? yang parameter arti prifasi/pribadi perlu tiap tiap saatnya di tilik ulang? heumn, bagaimana kiranya meyakinkan mereka bahwa sosok itu masih riil dan bukan hanya sebatas mimpi/idealisme belaka? atau ini hanya cukup untuk saya sendiri sadari?
persepsi saya atas sebuah sosok brahmana, ada pada wujud tegap bersahaja; cendekiawan yang penuh kasih/sabar/maaf/pengertian; yang dengan murah senyumnya senantiasa melayani dan dilayani oleh saya. meski rentang jarak dan waktu memisahkan kelancaran tuturan kata diantara kami.. saya hanya perlu tahu, untuk yakin, bahwa cinta diantara dia dan saya kekal bentuknya. dan hanya alamiah bilamana seorang anak menghabiskan separuh nafasnya berguru pada orang tuanya.
malam tadi, ditengah debat kusir dengan seorang sahabat, saya jengah pada kesadaran bahwa saya hanyalah produk nilai-nilai cinta kasih seorang brahmana pada buah hatinya. dimana naluri bermuarakan pada kebenaran, kepasrahan berkiblat pada waktu Illahi, dan idealisme terpahat pada dimensi yang universal. jujur diri, kasih sayang dan pengertian adalah cara. aksi dan reaksi, rasa dan asa, situasi dan konsekuensi.. ada di pemahaman yang natural, habitual namun sementara. dan pastinya seantero penjabaran demi penjabaran berikutnya tiada habis untuk ditatarkan.. tapi kira-kira begitulah, lingkup nyaman dan aman yang saya tahu betul. dua puluh enam tahun lamanya, semenjak katup mata belum juga bisa membuka, hingga kini pupil terlatih menangkap resonansi getaran jiwa disekitarnya.
atas satu dua alasan yang pasti, saya sadar betul kekurangan diri ini untuk menjelma sebagai sosok brahmani. saya masih mendambakan dia, sosok brahmana untuk saya -yang bisa jadi pengayom dan penuntun saya untuk mendalami lebih dalam nilai-nilai yang saya tempa selama ini. dan sungguh, hanya pada natural hirearkinya saja bila saya harapkan kesempatan itu datangnya sekarang. yang tiba-tiba saja saya punya begitu banyak waktu luang untuk mempelajari waktu Ilahi, demi secuil kekuatan iman pada kepasrahan. apapun bentuknya habitatual sementara ini: saat-saat menunggu maju ke meja operasi, obat dependensi pelipur kesendirian, atau hanya uluran tangan untuk menggenggam saya yang cenderung lari dari kenyataan akhir2 ini. ah ya, manusia hanya bisa mengharap dan berusaha bukan?
jadi saya berupaya mengharapkan kamu; kamu yang tengah berupaya menjelma menjadi sebuah sosok brahmana. maka aungan gema yang kamu dengar disana, tidaklah sebanding dengan teriakan-teriakan sayang sahabat-sahabat sekitar. semakin saya mengupayakan kamu, semakin nyaring pula teriakannya. mereka, yang hanya berupaya menyelamatkan saya -dari saya. diantara semua itu, dan saya hanya mampu mengacungkan bendera putih bertulisakan 'naluri'. itu saja. ah! apalah arti 'naluri' di hari gini? yang manusia begitu terlena pada ketergantungannya atas teknologi dan informasi? yang parameter arti prifasi/pribadi perlu tiap tiap saatnya di tilik ulang? yang hasrat untuk cinta/dicintai sering hanyalah jadi angan; selalu ditantang oleh dinginnya kekuatan sebuah diri, yang biasa sendiri dan bisa mandiri?
HAH! kalau kasih sayang adalah satu rupa anugerah, bodoh namanya untuk terus menerus menentang arusnya. biar kali ini saya dengarkan teriakan mereka, seperti saya selama ini selalu mencoba mendengarkan setiap alur nafas pada bisikan kamu. saya pinjam sedikit, energi kejujuran kamu siang tadi, untuk membuahkan sebuah pengertian. entah benar/tidaknya pengertian yang saya pegang -saya pun tidak yakin apa (selayaknya) kamu datang untuk mengkoreksi pengertian saya. yang penting kini naluri, tidak lagi harus ribut diperjuangkan; naluri cukup dengan mengangguk patuh dipencariannya atas kebenaran. sementara waktu diri, yang biasa sendiri dan bisa mandiri, masih banyak meluang untuk saya pelajari waktu Illahi. paling tidak sekarang saya sekiranya sudah bisa menerima, keberadaannya hasrat saya untuk cinta/dicintai, meski untuk kembali tergantung pada asalnya -di idealisme yang universal. janji, portrait mu akan saya simpan semampunya, di lubuk hati..
Allah, ijinkan saya..


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home