[waktu]
biar waktu yang bicara. gitu kira-kira pesan. sementara waktu yang empunya Tuhan. bukan kamu, dia apa lagi saya. jadi mustinya saya duduk manis diam rapih, memandangi detak-detik waktu. nyatanya saya gelisah duduk-bangun, pandangi kamu. sementara dari sini kamu terlihat nikmat bermain-main dial waktu. pastinya. begitu natural. sebagaimana saya memberi kamu begitu banyak kebebasan untuk berkuasa. atas situasi. atas rasa dan asa. atas saya -atau setidaknya begitu di permukaannya. padahal epidermis semakin menebal pada buffer lemak toleransi. rengkat nyaris mendarah daging.
biar waktu yang bicara. pesan hati gitulah kira-kira. wahai hati, tidakkah situ mengerti, di sini bukan agamis? tanpa maksud menolak. tetapi di dorong rasa takut. konyol, memang. takut menganut agama. takut menganut pada ritual. yang seringan pada saya, berkonsekuensi mistis. meski tidak berarti tiada berkeyakinan. wong, saya hirup kebesaranNya setiap saat. saya hidupi. saya penuhi dengan pilihan-pilihan aneka ragamnya baik dan buruk. senantiasa coba sadari betul sejauh kemampuan nalar mencerna. sampai setengah gila, mencerna. hingga dahulu kala terantuk pada limitasi simpangan tiga: sabar, pasrah dan ikhlas. kemarin lalu saya belajar, perwujudan kesabaran ada di perilaku yang bisa di upayakan lewat asahan kebiasaan. dan hari ini saya coba pelajari terima. terima pasrah dan ikhlas bisa di pelajari lewat agama. saya yang sekarang, coba pahami waktu. waktu yang punya Tuhan. yang bukan dial waktu imajiner yang ada di permainan jemari kamu. karena, di tebalnya epidermis toleransi, kini saya yakin kamu pun tidak mencoba-coba bermain dengan waktu.
biar waktu yang bicara. begitulah, pesan hati yang teresonansikan oleh getar bibir seorang ibu pada anaknya. malam ini, diskusi itu akhirnya hadir juga. cerita-ceriti pengalaman seputar jodoh: cinta yang dikukuhkan, cinta yang tak kesampaian. syukuri saja semuanya. semua ada pada tempat dan waktunya sendiri, pesan ibu. kalau boleh saya jabarkan sedikit, kelanjutan pesan ibu yang tidak terucapkan, kira-kira begini bunyinya: rasa syukur yang tulus menggambarkan keikhlasan, dan keikhlasan yang ada pada infinitas kepasrahan adalah perwujudan cinta sesungguhnya. berlindunglah pada daya cinta, di dalam nya kamu akan di dan terjaga. janganlah sungkan merima dan memancarkan kembali cinta itu, karena daya cinta itu utuh adanya -tidak akan kekurangan sesuatu apapun. resapi saja cinta. cinta itu kekal dan bermuara pada Illahi. dua puluh enam tahun eksposure aneka ragam bentuk cinta orang tua pada anaknya, baru sekarang bisa saya jabarkan secara gamblang arti dibalik didikan rasa syukur. bisa jadi gamblang, karena diskusi tadi begitu adanya: gamblang. cerita tempo doeloe ibu yang tidak pernah saya dengar sebelumnya, cerita saya akhir-akhir ini yang tidak pernah ibu dengar sebelumnya. pesan lainnya yang tidak ibu perlu haturkan tentunya, bahwa cinta dan doanya senantiasa menemani. terima kasih ibu untuk waktunya, zoen.


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home