14.4.06

seperti tidak ingin adanya kesadaran diri atas beratnya beban yang di pangku pagi itu. tidur tak nyenyak apalagi disaat bangun keesokannya. pil membantu sedikit turunkan debaran jantung. saya diantar bapak. entah wajah saya pucat atau apa, tapi beliau sungguh telaten mengayomi saya. kita terlibat diskusi seru, ini itu ngana nginu ngalor ngidul. meski diintermezzo oleh dengkuran halus saya; bukan.. bukan karena bosan. bagaimana mungkin bisa bosan bicara sama dia? hanya sekedar efek obat bersifat sementara. saat saya terjaga, bapak melanjutkan ceritanya; ya theori pemahaman hidup-nya; ya candanya. dia pastikan saya aman disaat jiwa saya merasa rawan. bapak menemani saya sedikit lebih lama dari yang saya kira. tidak terlalu lama. hanya cukup untuk pastikan sendi2 nyali saya mampu menopang kembali beban yang harus saya jalani pagi itu. seandainya bisa, saya yakin bapak ingin menggenggam tangan saya -salurkan energi. tapi dia beri saya sesuatu yang lebih, dia ada untuk saya. dan untuk keberadaannya dia, saya usahakan untuk tetap terjaga. sebelum kembali lelap ditengah2 gorong2 rumah sakit..

...

makan sendiri lagi, di kepala meja dan segelintir lauk pauk. wanita itu memikul sapu lidi di bahunya. berpatroli kanan-kiri-kanan-kiri. dia mawas diri memburu. berburu lalat. lalat yang sepertinya tergoda untuk mengusik manusia tiap kali sang pembantu melongokkan wajahnya diantara daun jendela pembatas ruang antara kita dan dia. ah enak memang kalau punya tumbal. tapi begitu memang adanya siang itu. saya makan sendiri, sementara wanita itu mondar mandir bersenjatakan sapu lidi. dia ingin memastikan makan siang saya nyaman -tanpa gangguan lalat. wanita itupun kemudian bercerita tentang pengalamannya terakhir, sebuah kekecewaan atas perilaku wanita lain. dia cerita saja, dan saya enggan untuk banyak berkomentar -saya dengarkan saja... bagaikan siaran ulang, atas diskusi saya kapan waktu dengan bapak. lagi lagi, perjalanan hidup kita saling bercermin.

...

kisah kasih yang telah usang itu kembali diceritakan lewat gambar. toh sudah lampau, karatan -mustinya tidak apa ku salah gunakan kode privasi disini. meski bukan untuk yg pertama kali ku lihat rentetan visual yang ada.. namun kali ini dada ku sesak. foto itu kali ini bicara yang lain; ceritera yang telah begitu rapih terjahit oleh benang2 bisu. begitu sarat rasa dan makna.. sayangnya, waktu bilang semua itu tidak cukup untuk menimbulkan reaksi. tidak dahulu, tidak sekarang. maka cinta itu kandas sudah. cinta diantara mereka, apabila pernah ada.. (tidak hanya sepihak)

...

perayaan lamaran megah. sekarat mas. sepetak atap. pasangan hidup yang dicari oleh masa depan. bulan madu dua iklim. entah apa, yang jelas doa dan harapan yg disemayamkan dibahumu tidaklah hanya seenteng biji kapas yang membuncah, wahai perempuan! dan ku hanya bisa cipratkan niat ku tuk pelajari mencintaimu

...

tidak lagi supir, baiknya kamu jadi tukang cuci mobil sajalah! dari pada majikan lagi lagi merugi; melihat senyummu sekilas pun gelas pecah sendiri!

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home