mengenai cinta menurut Mereka
akhir pekan kemarin saya sempat bersinggungan kembali dengan wajah lama. cinta saya sebelum yang sekarang. cinta ga kesampean. ralat, cinta perjuangan dua tahun ga kesampean saya. sementara saya perempuan, yang harga diri saya seharusnya hancur oleh ambisi saya sendiri. ambisi untuk memiliki -yang bukan milik saya.
saya tidak hanya bersinggungan, tpi juga jadi kenalan dan ngobrol2 sama orang tuanya. saya dijamu gorengan siang hari di meja makan mereka dan malam harinya saya numpang tidur di kamar yang penuh jejak2 pertumbuhannya. keesokan paginya pintu kamar saya di ketok untuk sholat shubuh. Setelah itu saya dipinjami kaos kaki dan sepatu olahraga kegedean, berdua kita beranjak langsung ke sasana olahraga sabuga ITB. Dilanjut sarapan bubur ayam di daerah pecinan kota tua dan berputar2 menyaksikan kota Bandung beranjak beraktifitas di pagi hari.
..dan saya semestinya tidak merasa apa-apa di antara hiruk pikuknya gejolak emosi atau perang memori di belakang kepala saya? saya tidak ingin merasa apa-apa. Ibaratnya aib bila harus mengulang kejadian masa lalu di masa sekarang. saya bukan keledai yang harus jatuh di lubang yang sama. lubang yang dahulu saya gali sendiri begitu semangatnya. seperti mungkin perjalanan ke Bandung kali ini. atau keputusan saya untuk menginap di tempatnya dari pada membayar hotel. tunggu sebentar, sebelum saya sadari, sudahkah saya mengorbankan harga diri saya kembali?
... (london, 2008) :
"sebelumnya, boleh nggak ya saya nanya..."
"sok atuh"
"kamu, sadar ga ya.. kamu dicintai selama ini?"
".......hh, sadar."
sembari menghembus nafas lega, "..ya udah, saya hanya perlu tau itu. meski, pastinya jawaban pertanyaan itu ada pertanyaan2 susulan lainnya. haha!"
"ya, silahkan aja dituntaskan"
"kamu ga pernah suka pertanyaan ini," senyum saya, sengaja membeli waktu untuk menata kata dan perasaan, "pastinya.. ya, pastinya ga jauh2 dari pertanyaan 'lalu kenapa engga?' "
"widih, jawaban saya untuk yang ini tetap -ga bisa berubah euy! 'tanyakan saja..'"
"..pada Mereka" sambung kita berbarengan. "hehe, iya, saya hapal betul jawaban kamu yang ini. tapi tolonglah, sebagai manusia.. kalo saya ada salah atau kurang dimana... saya cukup percaya sama kamu untuk memberi masukan."
"aah, enggak ada." cepat2 nadanya nyaris memotong, "saya hanya berprasangka sama Mereka bahwa, enggak aja. Bukan karena apa2"
"mm.. iya. saya percaya kamu." jawab saya mantap, "saya, cukup berterima kasih"
"....buat?"
"saya merasa jadi manusia yang lebih baik karena kamu. atau, perjalanan saya mencintai kamu. makasih ya.."
"oh, itu sih ga masalah."
seketika hening menelanjangi hingga ke sanubari. saya dan dia. bagaikan terhempas dari kelopak2 baju maupun ego bukti sejati manusia.
"boleh saya gantian nanya?"
"ah, dari dulu apa sih yang ga boleh buat kamu?" canda saya menutupi kemaluan.
"hehe. saya... saya pernah brengsek ga sih ke kamu?"
"ha?"
"iya, saya..."
"kamu? enggak kok. kamu.. masih yang terbaik, makanya susah lepasnya."
"ahaay! eh...." dia mencoba berhenti disitu, gantian mengurungkan ragunya dan mencoba meyakini kata2 saya.
"kenapa?" goda saya
"enggak kenapa2. saya.. makasih"
"saya, juga makasih. kamu ga pernah mencuri2 kesempatan menyalah gunakan perasaan saya ke kamu." dan begitu saja tsunami memori dua tahun terakhir menyeruak ke permukaan. paling tidak buat saya. saya tidak pernah harus telanjang di depan matanya untuk merasa tertelanjangi. teman2 dekat muara curhatan saya tentang dia pun selalu bilang saya cenderung menelanjangi diri sendiri di depan dia. entah kenapa, ya seperti sekarang ini! segala memori kekerasan niat, peluhnya pembuktian, kesombong batin, basian cinta yang tabu diatas namakan 'Mereka' dan hanya mampu redam baranya seiring dengan waktu dan niat saya untuk pindah negara dalam hitungan hari.
"kamu, OK kok. saya mungkin harusnya minta maaf, di komunitas kita yang kecil, malah kmarin2 bisa2 saya jdi faktor penghalang antara kamu dan kebahagiaan kamu -semisal, kamu mau deketin perempuan lain..."
"ah, enggak. itu sih no problem." ujarnya di logat sunda yang terlalu kental.
"yakiin?"
"iya"
"well, semoga.. kamu temukan yang kamu cari ya. jaga diri baik2..."
"kamu tau, saya begitu.."
"iya, saya tau betul. ini kan judulnya pamitan, kasih saya kesempatan dong ah!"
"eh, iya ha ha. kamu juga, jaga diri. eh, kamu kan emang ya? jaga hati baik2."
"i will..."
.... kemarin:
"lucu juga. kok ya kepikiran nemenin temennya jalan2 di kotanya kok, ngajaknya ya ke sasana olahraga subuh2. aneh juga ya.." komentar ibu disaat menyusuri jalan siliwangi di akhir pekan yang sama.
"dia, memang dua hari sekali nyempetin olahraga kok." sergah saya, "dan kemarin pas jatuh temponya aja."
orang tua saya datang ke Bandung untuk menjemput sekaligus menikmati libur 1 Muharram bersama. mereka asyik bernostalgia tujuan2 kuliner semasa berpacaran dahulu. membiarkan atensi saya banyak menari-nari bagai radikal bebas pada apa2 saja yang baru saya lalui:
... dua hari yang lalu:
"saya ketahuan ada di Bandung sama temen saya Bimbim. Kalau dia nyamperin kita pas kita makan malam, ga apa2 yah?" pinta saya, "saya ga enak."
"silakan aja." ujarnya sambil menyetir menuju pojok tujuan kami, "emangnya si Bimbim ini siapa?"
"dia itu, adik kelas sekaligus temen dekatnya Iwan"
"dan, Iwan itu siapa?"
"Iwan itu.. pacar saya di Paris"
hening
"dia ada dimana?"
"dia menjelaskan pun, ga akan mudeng saya"
"kita akan selesai makan sebelum dia datang." katanya definitif.
"kalau begitupun ga masalah. berarti ga jodoh untuk bertemu" tutur saya santai.
kata-kata penuh premonisinya menjadi kenyataan. dan sebelum apa2 dia sudah bangkit ke kasir untuk membayar. saya juga tidak mempermasalahkan perilakunya. saya bagaikan otomatis hanya menelepon untuk membatalkan rencana bertemu, tanpa negosiasi lebih lanjut. saya secara alam bawah sadar masih menerima dan ingin mempercayai perhitungan2 dia dalam mengambil keputusan. begitu saja.
... 6 jam yang lalu:
"jangan sungkan2 mampir sini lagi, dari pada bayar hotel."
"ah, ga tau deh. aku masih risih sama kluarga kamu"
"risih knapa? disini mah, santai."
"saya emang ada rencana ke bandung deket2 ini. lebih lama dari yang kemarin. tapi semua tergantung interview kerjaan saya besok."
"o ya? dan yang kemarin ketemu Asrul, itu untuk apa?"
"ada prospek proyek untuk seragam," jelas saya, "Asrul kan ada bagian konveksinya."
"Oo, bagus."
"Tapi berikutnya ke bandung untuk pribadi kok. saya butuh research untuk fashion" lanjut saya, "dan kalau di tempat kamu, saya harus berfikir mobilitas saya juga"
"kamu nyetir aja" proposisi jawabannya, "jadi kamu enak, bebas juga. maaf loh kemaren, saya kan ngejer proyek juga"
"faham. itu jdi konsiderasi sih, tapi juga kluarga kamu..."
"emang kamu mau research apa?"
"intinya saya iri sama Bandung. Home Industry masih sangat di support.."
"haha! ya udah, kamu kesini aja atuh. Kak Fi ada dari Senin sampai Kamis." katanya riang sembari menyebut kakaknya yang designer tekstil kondang, seolah-olah jawaban pasti untuk menepis kesungkanan saya terhadap keluarganya.
"oh iya, saya baru baca nama Kak Fi di Kompas. aku sampe jejeritan ke Ibu"
"oh (iya) ya?"
"heeh. Pdhl ibu reaksinya biasa aja. aku rasa Ibu udah terlalu mengenal (lagi) kelakuan anaknya -buat jejeritan. heheh" sambung saya manja mencoba membelokkan pembicaraan..
... sekarang:
seandainya kepareng oleh Mereka, bermodal tinta transparan dan dialaskan kertas ambigu, saya ingin diperbolehkan menorehkan lanjutan satuu saja dialog bathin dari begitu banyak yang pernah ada diantara dia dan saya sebagai berikut:
".. saya ga menutup sebelah mata, bahwa masih banyak poin2 dimana kamu masih yang lebih baik -kasarnya, dari pada dia (Iwan). Bedanya, dia yang saat ini mencintai saya dengan begitu tulus."
Yang dia tidak perlu tau adalah, bahwa cinta saya dan Iwan pun masih harus melewati ijin dan restu Mereka. Perwujudan Mereka pada garis keras adalah penolakan secara terbuka dari Ibu dan Bapak atas hubungan kami, tanpa sebab yang bisa dijelaskan kecuali dijalani seiring waktu.
Dan bahwa di salah satu do'a penuh isak tangis dalam usaha saya dan Iwan untuk memutuskan hubungan dan kembali jadi anak yang berbakti, Mereka harus menjawab melalui pertanyaan, "Siapa bilang cinta itu milik kamu (manusia) ?"
Ah, saya rasa dia pun sudah memahami pembelajaran terakhir saya ini atas cinta. saya, juga optimis dia cukup mengenal saya untuk membaca situasi saya dengan Iwan. Bagaimanapun saya sudah ndableg untuk menginap di rumahnya, seijin restu orang tua saya. Yang kemudian akan membawa dia pada dialog bathin prematur saya. atau jangan2, sebelum dia sadari, dia sudah mereka-reka itu sendiri?
Seperti saya bilang diawal tulisan ini, saya tidak pernah ingin harus kembali pada lubang yang sama. Saya tidak ingin harus menarik-narik kesimpulan yang tidak riil tentang dia yang bisa dihubung-hubungkan dengan saya. Saya sudah melewati pembelajaran ini hanya karena cinta saya sendiri yang menelanjangi saya. Cinta yang sama yang mengkompensasikan energi pengorbanan ego dan ambisi saya untuk memiliki, menjadi energi untuk mempercayai dia. cinta yang membebaskan. cinta yang kemudian memperkenalkan saya kembali pada Mereka, lewat dia. cinta yang kemudian hari hadir kembali di hari2 saya melalui sosok Iwan, untuk lalu dipertanyakan oleh Mereka. lalu dan lalu dan tapi ah, saya hanya manusia.. apalagi seorang perempuan. bukan pada tempatnya saya untuk meng'claim' cinta meski saya bertekad pada Mereka untuk tidak gentar mencintai seperti saya tidak pernah tersakiti sebelumnya. Bukan pada tempatnya juga bagi saya untuk mereka-reka dia, saya toh.. sebelumnya dibisikkan oleh Mereka melewati mimpi bahwa saya akan bertemu dia.
....
"Jadi sebenernya aku yang beruntung ya Yang? untuk ketemu kamu setelah kamu mengenal dia.. yang mengasah pemahaman cinta kamu seperti sekarang? aku sungguh manusia yang beruntung. ngedapetin cinta kamu itu priceless.. untuk bisa ngebales cinta kamu, is even more than that!" -Iwan, kemarin.


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home