Gapura Cinta
Selamat malam rongga dada ku.
Apa kabar -apakah nafas mu sudah lebih lega?
Lihat, kembali kita di sini,
di jalan yang menuju ke sebuah persimpangan.
Ku sketsakan sebuah rangka di persimpangan itu.
Semoga, rangkanya nampak dari jalan mu.
Meski sketsa ini masih kasar dan timpang,
mungkin sebuah jendela -atau gerbang?
Bagaimanapun bentuknya, bingkai itu layak di sana.
Gapura saksi sebuah perjalanan, perjuangan, penantian.
Bagaimana rongga dada ku,
masih adakah nafas untuk menghidupkan rangka tadi?
Seyogyanya pigura itu agar indah bersahaja;
terukir oleh mimpi, kenyataan dan harapan.
Seperti nafas mu yang kian menjadi nafas ku,
pada selubung rongga dada bertulangkan cinta.
Klise jaya bukan? Ya perihal cinta, ya waktu. Hah!
Nyatanya toh, kita sedang menuju persimpangan berikutnya.
Genggam tangan ku sebagaimana hanya kamu yang memahami..
Entah apa yang menanti kita di batas gerbang itu.


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home